Penyebab Protein Tinggi dalam Urine

www.inmalay.com -Untuk mengukur jumlah protein dalam urin, sampel acak dan atau sampel urin 24 jam bisa digunakan. Tes yang membantu mengukur kadar protein urin dikenal dengan uji dipstick. Kehadiran protein seperti albumin dalam urin terutama menunjukkan masalah ginjal. Kondisi ini dikenal sebagai ‘proteinuria’ atau ‘albuminuria’ atau ‘albumin urin’. Albumin sebenarnya berlimpah hadir dalam darah. Protein, blok bangunan tubuh diperlukan untuk memperkuat fungsi seluler, otot, tulang, rambut dan kuku. Protein memperkuat sistem kekebalan tubuh dan membantu menjauhkan penyakit. Kehilangan protein melalui urine bisa menyebabkan beberapa kesehatan

Peningkatan kadar protein dalam urine terutama menunjukkan infeksi ginjal atau penyakit ginjal yang mempengaruhi fungsi glomeruli. Penyebab lain dari kelainan ini adalah:

  • Pyelonephritis, infeksi bakteri pada ginjal menyebabkan radang nefron di ginjal
  • Glomerulonefritis, infeksi glomerulus nefron
  • Diabetes tipe 1 yang tidak terkontrol dan tipe 2
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi menyebabkan tidak hanya protein tapi juga darah dalam urin
  • Pre-eklampsia selama kehamilan (hipertensi dan retensi cairan)
  • Infeksi saluran kemih
  • Amiloidosis, deposit amiloid dalam organ atau jaringan
  • Tumor kandung kemih
  • Gagal jantung kongestif
  • Dehidrasi, kekurangan asupan air dan cairan
  • Nefropati diabetik
  • Sindrom Goodpasture, gagal ginjal progresif cepat seiring dengan penyakit paru-paru
  • Keracunan logam berat
  • Lupus eritematosus
  • Hipertensi ganas
  • Beberapa myeloma
  • Sindrom nefrotik
  • Penggunaan obat-obatan tertentu (obat nefrotoksik) yang bisa menyebabkan kerusakan pada ginjal
    Penyakit ginjal polikistik. baca juga : http://www.melayupost.info/2016/12/3-punca-kecing-berdarah.html

Proteinuria umumnya tidak menunjukkan gejala apapun. Tes urine dan darah rutin membantu mendeteksi kondisi ini. Kita harus ingat bahwa dehidrasi, stres emosional yang berlebihan, asupan obat-obatan tertentu, olahraga berat, infeksi saluran kemih atau urin yang terkontaminasi (dengan cairan vagina) dapat mempengaruhi hasil tes urine.